here i am again
i am walking through this field
finally
i will walk further
and longer
this time around
my regrets has been
abolished
away for good
i am looking for
the shade
so i may rest a while
but alas, i am too quick
to be happy
like always
the rain clouds
came again
like how it left a while ago
now i must
look for the shade
quickly
another field
is just to troublesome
to find
i must hurry
to find that cottage
somewhere
one more year
to go before
everything is alright.
i hope you understand me,
my love.
i always adore you.
forever.
- iona the grasscutter
confessions of a dog soldier
Sunday, July 26, 2009
the happy field
Labels:
enviroment,
life,
love,
new,
poetry,
understand
Wednesday, May 6, 2009
Mantera Dapat Kerja
Jemu, penat, meluat, berpeluh.
Terlalu banyak telah ku tempuh,
dan setiap kali juga aku mengeluh.
Dulu menyangkal segala rasa,
sering dinobat laksmana frasa.
Punya taraf dan juga kuasa.
Tempuranku bukan pistol dan pedang,
perahan mindaku menjadi senapang,
tapi kini, terhimpit dan telanjang.
Kemelut ekonomi menjadi-jadi.
Aku antara mangsa yang tersembunyi,
dibelenggu hutang, kehilangan diri.
Wawasanku kini semakin pudar,
setiap hari terpaksa bersabar.
Sesuap nasiku terancam, tercabar.
Ijazah, diploma tak pernah ditanya,
tak guna juga sarjana muda kerna
rimbunan kerja perlu 'dwi-bahasa'.
Namun aku bukanlah pengecut,
tetap mengejar walau terhincut
menangkap peluang yang sentiasa memecut.
Simbahan neon kotarayaku
menjanjikan mimipi yang seribu satu.
Pencarianku takkan terbuntu.
Semua ini dugaan dunia semata,
dari kelas ijazah Yang Maha Esa.
Harapan cerah ditentukan masa.
Ku tak berani mengaku kalah,
walau hidupku menjadi payah.
Ku kan berjuang takkan menyerah.
Insya'allah
Terlalu banyak telah ku tempuh,
dan setiap kali juga aku mengeluh.
Dulu menyangkal segala rasa,
sering dinobat laksmana frasa.
Punya taraf dan juga kuasa.
Tempuranku bukan pistol dan pedang,
perahan mindaku menjadi senapang,
tapi kini, terhimpit dan telanjang.
Kemelut ekonomi menjadi-jadi.
Aku antara mangsa yang tersembunyi,
dibelenggu hutang, kehilangan diri.
Wawasanku kini semakin pudar,
setiap hari terpaksa bersabar.
Sesuap nasiku terancam, tercabar.
Ijazah, diploma tak pernah ditanya,
tak guna juga sarjana muda kerna
rimbunan kerja perlu 'dwi-bahasa'.
Namun aku bukanlah pengecut,
tetap mengejar walau terhincut
menangkap peluang yang sentiasa memecut.
Simbahan neon kotarayaku
menjanjikan mimipi yang seribu satu.
Pencarianku takkan terbuntu.
Semua ini dugaan dunia semata,
dari kelas ijazah Yang Maha Esa.
Harapan cerah ditentukan masa.
Ku tak berani mengaku kalah,
walau hidupku menjadi payah.
Ku kan berjuang takkan menyerah.
Insya'allah
Labels:
berita harian,
jobless,
kerja,
melayu,
menganggur,
puisi,
unemployed
Subscribe to:
Posts (Atom)
